Banyaknya kasus penyakit kanker belakangan ini semakin membuat dunia tampak menyeramkan buatku...
Pasti udah pada denger tentang artis 2 yang pada kena kanker mulai chrisye, sampai gugun gondrong... ah mungkin banyak alasan membuat kita tidak peduli dengan kesehatan kita...... terutama dengan makanan kita......
Sekedar renungan beberapa bulan yang lalu sepupu jauhku kehilangan putri kecilnya karena kanker pada usus besarnya... duh gusti bocah itu masih berumur 3 tahun....(semoga nanti menjadi pengiring ayah bundanya ke surga),
Sekedar berbagi agar tak terulang pada anak-anak yang lain..........putri kecil ini rupanya sangat susah makan nasi, dan seperti biasa bundanya kebingungan mikir harus dengan cara apa anaknya mau makan, apa lagi waktu bunda sangat sempit buat putri kecilnya... akhirnya hanya pesan untuk pengasuhnya dirumah....pokoknya adek harus makan nasinya ya......
Pesan ini terlalu singkat dan dapat diinterpretasikan sangat luas, dan akhirnya diterjemahkan oleh pengasuhnya menjadi pokoknya adek harus makan, terserah pake lauk apa. Seperti sudah bisa ditebak, si mbak memberi lauk kegemaran anak2.... yaitu.... "Bakso!" jadilah si putri kecil ini setiap hari makan bakso beserta saus merahnya yang dibeli dari si abang yang setia lewat depan rumah mereka, kalo gak pake bakso gak mo makan deh....mestinya tak perlu waktu lama bagi makanan ini utk merusak kesehatan putri... sebab dalam usia 3 tahun.... putri harus menderita kanker .... Wallahua'lam bisa jadi dari sebab yang lain, tapi sang bunda menyesali keputusannya menyetujui memberikan bakso untuk makan putrinya setiap hari asal ada makanan yang masuk.... nasi sudah jadi bubur... jadi carilah daging ayam, cakwe dan kecap agar dapat menikmatinya sebagai bubur ayam yang lezat ( agar tetap memandang segala ujian dan cobaan dari Allah dengan keihlasan)
Sekedar cerita......sabtu kemaren di sekolah adek ada acara rutin pembagian rapor bulanan yang diisi dengan acara berbagi cerita dari masing2 ibu , nah kebetulan yang saat itu dapat giliran adalah bu nana, beliau adalah aktivis kelompok penggiat makanan organik di Malang, wah ceritanya bener2 menyadarkan betapa sebetulnya apa yang kita makan belum tentu halalan thoyyibah......ulasannya membuat kami tercengang, sampai tak terasa waktu yang diberikan hanya setengah jam, malah sudah kelewatan sejam eh tetep gak ada yang mau beranjak dari kursi kecil tempat kami duduk hehehe...
Nah salah satu yang bikin aku terkaget2 adalah hasil penelitian yang menyebutkan bahwa ternyata hormon yang disuntikkan pada ayam untuk bertelur dan untuk penggemuk itu berpengaruh pada manusia yang memakannya, sehingga terjadi ketidak stabilan hormon, kalo pada anak2 menyebabkan menstruasi dini, dan secara umum... penyebab kanker juga...(aduh padahal kirain telur adalah makanan bergisi paling praktis lho... tapi tenang masih ada telur ayam kampung bu)
trus ada lagi ceritanya waktu beliau berkunjung ke pabrik mie instan, bahkan bagian risetnya mengatakan, sebaiknya jangan mengkonsumsi mei ini, saya udah bertahun2 gak pernah makan mie instan katanya, ngeri ! ( aduh ayah nih yang suka makan mie instan!)...untuk menguji mie katanya larutan mie ditetesi yodium ( dari obat merah/betadin) kalo hasilnya biru ke ungu maka semakin pekat semakin banyak racunnya, kalo warnanya orange-merah maka lebih aman
trus tentang terigu paling ngetop yang banyak banget berisi bahan kimia seperti pemutih, penghalus, pengawet dan syeremnya diragukan kehalalannya. (Aduh.... padahal rasanya dari melek sampai merem lagi kita paling banyak tuh makan telur ama terigu...)
Aku jadi berpikir apa bener penyakit mengerikan itu semakin banyak karena memang semakin jarang ada makanan sehat? semuanya mengandung bahan kimia yang katanya aman, ternyata... tidak juga... so slogannya go to organic jangan hanya diartikan utk menghindari pestisida dan pupuk oranik, tapi lebih penting lagi... proses pasca panen dan pegolahan bahan makanannya ternyata juga mengerikan.........
Showing posts with label pemikiran. Show all posts
Showing posts with label pemikiran. Show all posts
Thursday, September 18, 2008
Wednesday, May 23, 2007
Berjuang untuk bahagia
Pernikahan mulai menjadi sesuatu yang menakutkan bagi sebagian orang.
Setidaknya bagi perempuan aktivis pejuang kesetaraan jender.
Bagaimana tidak dalam beberapa waktu belakangan ini KDRT banyak mencuat di media massa
Kasus penganiayaan suami terhadap istri sudah sangat mengerikan
Ulasan kasus yang diberikan oleh aktivis hampir sama karena tidak adanya posisi tawar sang istri menjadi penyebab tingginya KDRT di Indonesia.
Alasannya istri secara ekonomi bergantung pada suami
padahal pada banyak kasus KDRT justru dipicu oleh kondisi suami yang tanpa penghasilan??
Artinya menurut saya justru budaya dan cara berpikir yang harus disalahkan
Ketika menikah seorang baik istri maupun suami merasa perempuan (istri) telah menyerahkan seluruh hidupnya untuk suami hanya karena telah memberi mahar dan kewajiban menafkahi istri.
Padahal hanya kepada Allah sang pencipta kita pantas berserah diri.
Dan tidak ada hubungan antara kewajiban mahar dan nafkah dengan kewajiban kepatuhan seorang istri pada suaminya.
Bahkan dogma agama menjadi legalisasi atas kekerasan yang dilakukan suami pada istrinya.
Padahal tidak ada hubungan juga antara kepatuhan istri dengan penunjukan laki-laki sebagai pemimpin dalam rumah tangga.
Adakah alasan yang pasti dari penunjukan ini ?????
Wallahu a'lam bisshowab......
Karenanya tidak perlu dikaitkan antara penunjukan laki-laki sebagai kepala keluarga dengan pemberian kekuasaan suami atas intrinya....
karena hakekatnya tidak ada satu manusiapun yang berkuasa atas manusia yang lain.
Tidak suami kepada istri , ataupun orang tua kepada anak.
Kembali ke pernikahan.....
Beberapa teman yang belum menikah mengatakan saat ini tidak ada laki-laki / perempuan yang cocok (pantas) menjadi pasangannya....
Lalu dengan bergurau saya menjawab sekarang semua gak ada yang pantas menjadi pendamping nanti kalau udah tua dan sendirian jangan-jangan kamu yang gak pantas buat semua orang. hehe....
Semua beralasan belum siap mengorbankan kesenangan untuk pasangan apalagi anak.
Lalu saya berpikir berapa besar kebahagiaan saya dulu sebelum menikah yang hilang karena pernikahan?????
Tentu jawabnya banyak.... tapi pertanyaanya tidak berhenti sampai disitukan???? Tapi bersambung dengan
Berapa banyak kebahagiaan baru yang saya peroleh dari pernikahan ?????
Jawabnya juga Banyak sekali.
Masalahnya adalah seimbangkah keduanya????? kalo seimbang maka tidak salah jika banyak orang enggan menikah ..... Namun jika kebahagiaan yang diperoleh setelah menikah lebih besar tentu tidak rugi donk!!!
Namun yang sering terlupakan adalah kebahagiaan membutuhkan usaha untuk meraihnya.....
Kadang dia tidak datang begitu saja,
Karena hidup adalah perjuangan maka Perempuan ......berjuanglah untuk bahagia.........
Apapun itu dan siapapun anda berjuanglah untuk memperoleh kebahagiaan sejati.....
Setidaknya bagi perempuan aktivis pejuang kesetaraan jender.
Bagaimana tidak dalam beberapa waktu belakangan ini KDRT banyak mencuat di media massa
Kasus penganiayaan suami terhadap istri sudah sangat mengerikan
Ulasan kasus yang diberikan oleh aktivis hampir sama karena tidak adanya posisi tawar sang istri menjadi penyebab tingginya KDRT di Indonesia.
Alasannya istri secara ekonomi bergantung pada suami
padahal pada banyak kasus KDRT justru dipicu oleh kondisi suami yang tanpa penghasilan??
Artinya menurut saya justru budaya dan cara berpikir yang harus disalahkan
Ketika menikah seorang baik istri maupun suami merasa perempuan (istri) telah menyerahkan seluruh hidupnya untuk suami hanya karena telah memberi mahar dan kewajiban menafkahi istri.
Padahal hanya kepada Allah sang pencipta kita pantas berserah diri.
Dan tidak ada hubungan antara kewajiban mahar dan nafkah dengan kewajiban kepatuhan seorang istri pada suaminya.
Bahkan dogma agama menjadi legalisasi atas kekerasan yang dilakukan suami pada istrinya.
Padahal tidak ada hubungan juga antara kepatuhan istri dengan penunjukan laki-laki sebagai pemimpin dalam rumah tangga.
Adakah alasan yang pasti dari penunjukan ini ?????
Wallahu a'lam bisshowab......
Karenanya tidak perlu dikaitkan antara penunjukan laki-laki sebagai kepala keluarga dengan pemberian kekuasaan suami atas intrinya....
karena hakekatnya tidak ada satu manusiapun yang berkuasa atas manusia yang lain.
Tidak suami kepada istri , ataupun orang tua kepada anak.
Kembali ke pernikahan.....
Beberapa teman yang belum menikah mengatakan saat ini tidak ada laki-laki / perempuan yang cocok (pantas) menjadi pasangannya....
Lalu dengan bergurau saya menjawab sekarang semua gak ada yang pantas menjadi pendamping nanti kalau udah tua dan sendirian jangan-jangan kamu yang gak pantas buat semua orang. hehe....
Semua beralasan belum siap mengorbankan kesenangan untuk pasangan apalagi anak.
Lalu saya berpikir berapa besar kebahagiaan saya dulu sebelum menikah yang hilang karena pernikahan?????
Tentu jawabnya banyak.... tapi pertanyaanya tidak berhenti sampai disitukan???? Tapi bersambung dengan
Berapa banyak kebahagiaan baru yang saya peroleh dari pernikahan ?????
Jawabnya juga Banyak sekali.
Masalahnya adalah seimbangkah keduanya????? kalo seimbang maka tidak salah jika banyak orang enggan menikah ..... Namun jika kebahagiaan yang diperoleh setelah menikah lebih besar tentu tidak rugi donk!!!
Namun yang sering terlupakan adalah kebahagiaan membutuhkan usaha untuk meraihnya.....
Kadang dia tidak datang begitu saja,
Karena hidup adalah perjuangan maka Perempuan ......berjuanglah untuk bahagia.........
Apapun itu dan siapapun anda berjuanglah untuk memperoleh kebahagiaan sejati.....
Label:
pemikiran
Subscribe to:
Posts (Atom)